Labels

Kamis, 02 Mei 2013

Analisis Kesalahan dan Kontrastif



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Bahasa tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena bahasa  merupakan alat komunikasi bagi setiap manusia. Bahasa merupakan lambang bagi setiap bangsa. Dari bahasa kita dapat mengambil kesimpulan apakah kepribadian seseorang itu baik ataukah buruk.
Bahasa bukanlah warisan biologis melainkan bahasa harus diperoleh dan dipelajari oleh setiap manusia. Apabila pembelajar bahasa menerima masukan bahasa dari lingkungannya maka masukan tersebut akan diproses dengan alat yang disebut language acquisition device dan hasil pemrosesan tersebut akan membentuk sebuah kemampuan berbahasa.
Dalam setiap proses belajar bahasa setiap anak pasti akan menemukan kesalahan dan akan timbul kesulitan apabila B1 (bahasa daerah) dan B2 (bahasa indonesia) yang dipelajari terdapat perbedaan. Maka dari itu kami selaku pemakalah akan membahas tentang analisis kesalahan berbahasa dan analisis kontastif yang akan menjembatani kesulitan-kesulitan tersebut.



B.     Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas tentang:
1.      Pengertian analisis kesalahan bahasa dan analisis kontrastif
2.      Prosedur analisis kesalahan dan analisis kontrastif
3.      Taksonomi analisis kesalahan
4.      Manfaat dan tujuan dari analisis kesalahan dan analisis kontrastif.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian analisis kesalahan
Crystal mengungkapkan bahwa analisis kesalahan adalah sebuah teknik untuk mengidentifikasi sistematis kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh siswa yang sedang belajar bahasa kedua dengan menggunakan bahasa asing dengan menggunakan teori-teori atau prosedur-prosedur berdasarkan linguistik.
Analisis kesalahan berbahasa merupakan satu tindakan dan studi secara formal dan sistematik untuk mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan, hambatan,hambatan, dan kendala-kendala dalam proses pembelajaran bahasa bagi mereka yang berbeda latar belakang kebahasaan.[1]
Jadi, analisis kesalahan adalah suatu teknik yang digunakan oleh peneliti atau guru bahasa untuk mengidentifikasi kesalahan, mengevaluasi kesalahan dan mengklarifikasi kesalahan dalam bahasa seperti contoh pemakaian bentuk-bentuk aturan unit kebahasaan yang meliputi kata, paragraf , kalimat yang menyimpang dari sistem ejaan dan tanda baca yang telah di tetapkan.
Dalam literatur tentang pengajaran bahasa para sarjana membedakan dua macam kesalahan berbahasa yaitu error dan mistakes. Berdasarkan konsep itu Pit. S. Corder memberikan perbedaan antara mistakes dan errors, begitu juga dalam kamus kebahasaan analisis kesalahan diartikan sebagai berikut[2]:
1.      Mistakes adalah penyimpangan-penyimpangan berbahasa yang dilakukan pembelajar secara tidak sistematis. Kekeliruan ini hanya terletak pada performance nya saja yang biasanya disebabkan oleh kelelahan, gugup, keterbatasan ingatan,tekanan emosional, dsb.
2.      Errors adalah penyimpangan-penyimpangan berbahasa yang dilakukan seseorang secara sistematis dan konsisten. Penyimpangan sistematis menggambarkan kemampuan berbahasa seseorang pada tahap tertentu dalam mempelajari bahasa kedua.
B.     Prosedur analisis kesalahan berbahasa
Terdapat berbagai pendapat tentang prosedur yang dilakukan dalam mengadakan analisis kesalahan berbahasa. Menurut Corder langkah-langkah tersebut sebagai berikut[3]:
1.      Mengumpukan data kesalahan
kegiatan pada tahap pertama ini meliputi beberapa hal, yaitu:
a.       Menetapkan luas sampel
b.      Menentukal media sampel (lisan atau tulisan)
c.       Menentukan kehogenan sampel yang berkaitan dengan usia pelajar, latar belakang B1, tahap perkembangan.
2.      Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kesalahan
Pada tahap ini kesalahan-kesalahan akan diidentifikasi kemudian di klarifikasikan sesuai tingkat kesalahannya. Apakah kesalahan tersebut termasuk dalam bidang fonologi, kesalahan dalamm bidang morfologi, kesalahan dalam bidang sitaksis ataukah kesalahn dalam bidang semantik.
3.      Menjelaskan kesalahan
Kegiatan pada tahap ini merupakan upaya untuk menjelaskan penyebab kesalahan tersebut dan akan diberikan deskripsi mengapa kesalahan tersebut bisa terjadi dan bagaimana proses terjadinya kesalahan tersebut. . Kemudian diberikan solusi agar kesalahan tersebut bisa dipertanggung jawabkan.
4.      Kuantifikasi kesalahan
Tahap untuk melihat tingkat keseringan suatu kesalahan tersebut muncul. Dan hasilnya bisa digunakan untuk melihat tingkat kesalahan yang dilakukan pembelajar.

5.      Mengoreksi kesalahan
Dengan adanya kesalahn-kesalahan yang ada atau yang sering terjadi maka akan dikoreksi dan diperiksa agar dapat di ambil langkah perbaikan selanjutnya.
C.    Taksonomi kesalahan
dalam taksonomi kesalahan disini membahas tentang analisis kesalahan dalam pengajaran B2 (bahasa indonesia), dan yang menjadi topik utama dalam taksonomi kesalahan adalah disini lebih menekankan pada pendeskripsian taksonomi kesalahan dalam  B2 (bahasa indonesia).
Terdapat empat pengklasifikasian atau taksonomi yang digunakan untuk memprediksi performansi kesalahan berbahasa, yaitu[4]: taksonomi kategori linguistik, taksonomi kategori strategi lahir, taksonomi kategori komparatif dan taksonomi kategori efek komunikasi. Dan berikut adalah penjelasan masing-masing.
1.      Taksonomi kategori linguistik (linguistic category)
Berdasarkan taksonomi kategori lingustik mengklarifikasikan kesalahan atas komponen bahasa, dalam komponen bahasa kesalahan diklasifikasikan menjadi:
a.    Klasifikasi pada tataran fonologi, dalam tataran fonologi ini bahwa kesalahan yang terjadi akibat kesalahan dalam mengucap dan kesalahan ejaan. Kesalahan dalam mengucap apabila kita salah mengucap suatu kata sehingga menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkaan perbedaan makna. Misalnya:
Enam diucapkan anam, anem
Rabu diucapkan Rabo
Alasan diucapkan alesan
Telur diucapkan telor
Hantam diucapkan hantem, antem
Sedangkan kesalahan mengeja adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan dalam menggunakan tanda baca. Misalnya:
Melihat-lihat ditulis me-lihat2
Partanggungjawaban ditulis pertanggung jawaban
Orang tua ditulis orangtua
Dua puluh ditulis duapuluh
Mengesampingkan ditulis mengenyampingkan
b.    Kesalahan morfologi adalah kesalahan dalam memakai bahasa disebabkan salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang, salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bentuk kata. Misalnya:
Sekali-kali datang juga dia mengunjungi kami yang seharusnya sekali-sekali datang juga dia mengunjungi kami.
Banyak pelajar-pelajar baris-baris di tanah lapang itu yang seharusnya banyak pelajar berbaris di tanah lapang itu.
Saya lebih baik berpulang daripada meninggal sini yang seharusnya Saya lebih baik pulang daripada tinggal di sini.
c.    Kesalahan sintaksis adalah kesalahan yang terjadi pada struktur frasa, klausa, serta ketidak tepatan pemakaian artikel. Misalnya:
Sampai bertemu lagi di  lain kesempatan yang seharusnya sampai bertemu lagi pada kesempatan lain
Mengapa kamu pergi dengan tanpa pamit? yang seharusnya mengapa kamu pergi tanpa pamit ?
d.   Kesalahan leksikon adalah kesalahan pemakaian kata yang kurang tepat. Misalnya: demikianlah agar anda maklum, dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih yang seharusya demikianlah agar anda maklum, dan atas perhatian anda saya ucapkan terima kasih.
2.      taksonomi kategori strategi lahir (Surface Category)
taksonomi dalam kategori ini gunanya adalah untuk memprediksi strategi pemerolehan dan pembelajaran B2 yang dilakukan oleh pembelajar bahasa, secara garis besar kesalahan-kesalahan yang terkandung dalam taksonomi ini adalah:
a.    penghilangan (omission)
maksud dari penghilangan disini adalah terdapat butir-butir bahasa yang dihilangkan dalam suatu frase atau kalimat padahal butir-butir tersebut diperlukan agar kalimat tersebut menjadi bahasa yang baik dan benar, misalnya dalam contoh percakapan dibawah ini (yang berada dalam tanda kurung dihilangkan dari percakapan):
Ani: “siapa namamu?”
Dani: “nama saya [si] Dani”
Ani: “Di mana kamu tinggal?”
Dani: “[Di] Surabaya”
Ani: “Mau pergi kemana kamu?”
Dani: “[Ke] Bandung”
b.    penambahan (addition)
penambahan adalah kesalahan yang berupa penambahan unsur-unsur bahasa yang tidak diperlukan dalam suatu kalimat. Misalnya:
para mahasiswa-mahasiswa, kaum ibu-ibu, dll. Atau dalam suatu kalimat “saya sering mengajak si Budi membaca di perpustakaan tetapi dianya [dia] tidak mau.
c.    Kesalahbentukan
Adalah kesalahan membentuk kontruksi dalam suatu kalimat. Kesalahan ini ditandai dengan pemakaian bentuk morfem yang salah, contohnya: “Omongannya tidak jelas” seharusnya “perkataanya tidak jelas”
d.   Salah urutan
Adalah menyusun suatu kalimat secara tidak benar. Kesalahan ini ditandai dengan penempatan yang tidak benar bagi suatu morfem dalam suatu kalimat ataupun ucapan, contoh: “ Mengambil buku saya adik kemarinyang seharusnya “Adik mengambil buku saya kemarin”.
3.      Taksonomi kategori komparatif
Dalam kategori ini didasarkan pada perbndingan-perbandingan antara struktur kesalahan-kesalahan B2. Dalam kategori ini terdapat beberapa macam kesalahan:
a.    Kesalahan interlingual, kesalahan ini terjadi karena pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa kedua, contohnya: “Dia duduk paling depan sendiri seharusnya” yang seharusnya “Dia duduk paling depan”.
b.    Kesalahan intralingual
Kesalahan ini terjadi apabila para pembelajar salah menerapkan kaidah dalam bahasa  dan belum sepenuhnya menguasai kaidah-kaidah tersebut, contohnya: “burung itu menelor dua butir” yang seharusnya “burung itu bertelor dua butir”
c.    Kesalahan ambigus, kesalahan yang mencerminkan kesalahan interlingual dan kesalahan intralingual, contohnya “Menulis Saya” seharusnya “Saya Menulis”. Contoh ini diambil dari bahasa karo yang dimana kalimat yang berpola P-S merupakan kalimat umum dan wajar, justru kalimat S-P yang merupakan inverensi.
4.      Taksonomi kesalahan efek komunikatif
Pada kategori ini membahas tentang efek kesalahn terhadap pendengar atau pembaca, tentang perbedaab kesalahan tuturan yang menyebabkan misscomunication dan sebaliknya. Dalam taksonomi ini terdapat dua macam kategori kesalahan, yaitu:
a.    Kesalahan global, adalah kesalahan yang mempengaruhi keseluruhan organisasi kalimat sehingga menggangu komunikasi. Kesalahan-kesalahan global yang paling sistematis mencakup: salah menyusun unsur pokok misalnya: “Bahasa Indonesia banyak orang disenangi” yang seharusnya “Bahasa Indonesia disenangi banyak orang”, Salah menempatkan atau tidak memakai kata sambung, misalnya: “kamu akan senang sampai kamu bekerja keras” seharusnya “kamu akan senang kalau kamu kerja kerja keras”, Hilangnya ciri kalimat pasif, misalnya: “Barisan periksa dari komandan”  seharusnya “Barisan diperiksa oleh komandan”.
b.    Kesalahan lokal, adalah kesalahan yang mempengaruhi sebuah unsur dalam kalimat dan tidak mengganggu komunikasi secara signifikan. Contohnya: “Penyeselaian tugas ini diselesaikannya dengan penuh semangat” yang seharusnya “tugas itu diselesaikannya dengan penuh semangat” atau “jumlah mahasiswa IAIN Sunan Ampel berjumlah sepuluh ribu” yang seharusnya “Jumlah mahasiswa IAIN Sunan Ampel sepuluh ribu”.
D.    Tujuan dan manfaat analisis kesalahan
Secara tradisional tujuan dari diadakannya analisis kesalahan ini supaya para pengajar bisa menganalisis kesalahan-kesalahan yang dialami oleh pembelajar B2. Adapun manfaat dari analisis kesalahan ini diharapkan dengan adanya analisis ini dapat membantu guru dalam hal menentukan urutan bahan pengajaran, memutuskan untuk memberikan penjelasan, dan praktek yang diperlukan mengenai kesalahan-kesalahan yang terjadi, memberikan remidi dan latihan-latihan apabila para siswa atau pembelajar masih saja melakukan kesalahn-kesalahan, memilih butir-butir bahasa kedua untuk keperluan tes profisiensi pembelajar.














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Analisis kesalahan adalah suatu teknik yang digunakan oleh peneliti atau guru bahasa untuk mengidentifikasi kesalahan, mengevaluasi kesalahan dan mengklarifikasi kesalahan dalam bahasa seperti contoh pemakaian bentuk-bentuk aturan unit kebahasaan yang meliputi kata, paragraf , kalimat yang menyimpang dari sistem ejaan dan tanda baca yang telah di tetapkan.
2.      Adapun prosedur yang dilaukan dalam mengadakan analisis kesalahan bahasa sebagai berikut:
Ø  Mengumpukan data kesalahan
Ø  Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kesalaha
Ø  Menjelaskan kesalahan
Ø  Kuantifikasi kesalahan
Ø  Mengoreksi kesalahan.
3.      Terdapat empat pengklasifikasian atau taksonomi yang digunakan untuk memprediksi performansi kesalahan berbahasa, yaitu: taksonomi kategori linguistik, taksonomi kategori strategi lahir, taksonomi kategori komparatif dan taksonomi kategori efek komunikasi.










DAFTAR PUSTAKA


Nata, Abuddin. 2008. Akhlak Tasawuf. Jakata: PT. Raja Grafindo Persada.

Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistic Edukasional. Jakarta: Erlangga.

S. Corder, Pit. 1982. Eror Analysis and Interlanguage. Oxford University Press.

Sujinah. 2004. Analisis Kesalahan Berbahasa Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Surabaya:




[1] Jos Daniel Parera, Linguistic Edukasional, (Jakarta: Erlangga, 1997),  h.98
[2] Pit S.Corder, Eror Analysis and Interlanguage, (Oxford University Press, 1982), h.16
[3] Sujinah, Analisis Kesalahan Berbahasa Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia, (Surabaya: ,2004), h.13
[4] Ibid, h.16

Pembelajaran Bahasa Arab



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengajaran bahasa Arab sangat menarik sekali untuk dikaji ulang. Bukan saja karena fungsi dan esensinya ba­­gi kehidupan komunikasi Islam, tapi karena sifatnya yang berada di tengah-tengah tradisi kependidikan yang sedang berlangsung dewasa ini memerlukan berbagai inovasi, sebagai konsekuensi logis berkembangnya sains dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat bagi kehidupan manusia, maka diperlukan adanya upaya pada teknisi pengajaran bahasa.
Selain tersebut di atas, yang lebih menarik lagi, pada sorotan yang bernada kritik dari para ahli dan masyarakat terhadap kemampuan pelajar atau siswa, khususnya siswa IAIN atau STAIN terhadap bahasa Arab. Dari fenomena yang ada, banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, lebih banyak meninggalkan kesan akan pentingnya pengajaran penguasaan tata bahasa saja, seperti yang tampak pada menghafalkan kaidah-kaidah bahasa.
Akibatnya kita tidak akan heran kalau sementara ini ada seorang yang pandai menguasai segi tata bahasa Arab, tetapi lemah dalam hal menfungsikan bahasa Arab itu sendiri, sebagai bahasa komunikasi. Oleh karena itu, pada makalah ini kami berusaha mengangkat tema tentang  “Perspektif Umum tentang Pembelajaran Bahasa Arab”.
B.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian pembelajaran Bahasa Arab
2.      Untuk mengetahui tujuan dan pentingnya pembelajaran Bahasa Arab
3.      Untuk mengetahui tingkatan dalam pembelajaran Bahasa Arab
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Pembelajaran Bahasa Arab
Pembelajaran substansinya adalah kegiatan mengajar yang dilakukan secara maksimal oleh seorang guru agar anak didik yang ia ajari materi tertentu melakukan kegiatan belajar dengan baik. Dengan kata lain pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan kegiatan belajar materi tertentu yang kondusif untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, pembelajaran bahasa asing adalah kegiatan mengajar yang dilakukan secara maksimal oleh seorang guru agar anak didik yang ia ajari bahasa asing tertentu melakukan kegiatan belajar dengan baik, sehingga kondusif untuk mencapai tujuan belajar bahasa asing.[1]
Dalam pembelajaran bahasa ada tiga istilah yang perlu dipahami pengertian dan konsepnya secara tepat, yakni pendekatan, metode dan teknik. Edward M Anthony dalam artikelnya “Approach, Method and Technique” ketiga istilah tersebut sebagai berikut:[2]
1.      Pendekatan, yang dalam bahasa Arab disebut madkhal adalah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat bahasa dan hakikat belajar mengajar bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatis atau filosofis yang berorientasi pada pendirian, filsafat, dan keyakinan yaitu sesuatu yang diyakini tetapi tidak mesti dapat dibuktikan.
2.     
2
 
Metode, yang dalam bahasa Arab disebut thariqah adalah rencana menyeluruh yang berkenaan dengan penyajian materi bahasa secara teratur atau sistematis berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Jika pendekatan bersifat aksiomatis, maka metode bersifat prosedural. Sehingga dalam satu pendekatan bisa saja terdapat beberapa metode.
3.      Sedangkan Teknik, yang dalam bahasa Arab disebut uslub atau yang populer dalam bahasa kita dengan strategi, yaitu kegiatan spesifik yang diimplementasikan di dalam kelas, selaras dengan pendekatan dan metode yang telah dipilih. Teknik bersifat operasional, karena itu sangatlah tergantung pada imajinasi dan kreativitas seorang pengajar dalam meramu materi dan mengatasi dan memecahkan berbagai persoalan di kelas.
Dari paparan di atas dapat dipahami, bahwa ketiga istilah tersebut memiliki hubungan yang hirarkis. Dari satu pendekatan bisa menghadirkan satu atau beberapa metode, dan dari satu metode bisa mengimplementasikan satu atau beberapa strategi. Sebaliknya strategi harus konsisten dengan metode dan karena itu tidak boleh bertentangan dengan pendekatan.
Adapun menurut Oemar Hamalik pengertian pembelajaran adalah suatu komunikasi yang  tersusun meliputi unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran, dalam hal ini manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya.[3] Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara guru dan siswa, di satu sisi guru melakukan sebuah aktivitas yang membawa anak ke arah tujuan, lebih dari itu anak atau siswa dapat melakukan serangkaian kegiatan yang telah direncanakan oleh guru yaitu kegiatan balajar yang terarah pada tujuan yang ingin dicapai.
Sementara itu, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa dunia yang telah mengalami perkembangan sosial masyarakat dan ilmu pengetahuan. Bahasa Arab dalam kajian sejarah termasuk rumpun bahasa Semit yaitu rumpun rumpun bahasa yang dipakai bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar sungai Tigris dan Furat, dataran Syria dan Jazirah Arabia (Timur Tengah).[4] Dengan demikian pembelajaran bahasa Arab dapat didefinisikan suatu upaya membelajarkan siswa untuk belajar bahasa Arab dengan guru sebagai fasilitator dengan mengorganisasikan berbagai unsur untuk memperoleh tujuan yang ingin dicapai.
  1. Tujuan dan Pentingnya Pembelajaran Bahasa Arab
Pembelajaran bahasa diperlukan agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dan benar dengan sesamanya dan lingkungannya, baik secara lisan maupun tulisan. Tujuan pembelajaran bahasa adalah untuk menguasasi ilmu bahasa dan kemahiran berbahasa Arab, seperti muthala’ah, muhadatsah, insya’, nahwu dan sharaf, sehingga memperoleh kemahiran berbahasa yang meliputi empat aspek kemahiran, yaitu:[5]
1.      Kemahiran menyimak
Kemahiran menyimak sebagai kemahiran berbahasa yang sifatnya reseptif, menerima informasi dari orang lain (pembicara).
2.      Kemahiran membaca
Kemahiran membaca merupakan kemahiran berbahasa yang sifatnya reseptif, menerima informasi dari orang lain (penulis) di dalam bentuk tulisan. Membaca merupakan perubahan wujud tulisan menjadi wujud makna.
3.      Kemahiran menulis
Kemahiran menulis merupakan kemahiran bahasa yang sifatnya yang menghasilkan atau memberikan informasi kepada orang lain (pembaca) di dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan perubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud tulisan.
4.      Kemahiran berbicara
Sedangkan kemahiran berbicara merupakan kemahiran yang sifatnya produktif, menghasilkan atau menyampaikan informasi kepada orang lain (penyimak) di dalam bentuk bunyi bahasa (tuturan merupakan proses perubahan wujud bunyi bahasa menjadi wujud tuturan
Departemen Agama menjelaskan bahwa tujuan umum pembelajaran bahasa Arab adalah:[6]
1.      Untuk dapat memahami al-Quran dan hadist sebagai sumber hukum ajaran Islam.
2.      Untuk dapat memahami buku-buku agama dan kebudayaan Islam yang ditulis dalam bahasa Arab.
3.      Untuk dapat berbicara dan mengarang dalam bahasa Arab
4.      Untuk dapat digunakan sebagai alat pembantu keahlian lain (supplementary).
5.      Untuk membina ahli bahasa Arab, yakni benar-benar profesional.
Di samping itu tujuan pengajaran bahasa Arab adalah untuk memperkenalkan berbagai bentuk ilmu bahasa kepada peserta didik yang dapat membantu memperoleh kemahiran berbahasa, dengan menggunakan berbagai bentuk dan ragam bahasa untuk berkomunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, untuk tercapainya tujuan tersebut para pengajar atau ahli bahasa, pembuat kurikulum atau program pembelajaran harus memikirkan materi atau bahan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik serta mencari metode atau teknik pengajaran ilmu bahasa dan kemahiran berbahasa arab, dan melatih peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, baik kemahiran membaca, menulis dan berbicara.
Kemahiran dasar yang harus dimiliki dalam memahami bahasa Arab dalam menguasai ilmu bahasa dan kemahiran berbahasa Arab beserta kaidahnya-kaidahnya, menghafal atau menguasai kosa-kata  (mufradat) beserta artinya. Kaidah-kaidah bahasa Arab dipelajari dalam mata kuliah nahwu dan sharaf . Sedangkan mufradat dapat dikuasai melalui mata kuliah muthala’ah dan muhadatsah, karena kedua mata kuliah tersebut sangat bergantung pada penguasaan kosa-kata.
Dalam menguasai kaidah-kaidah bahasa Arab memerlukan kepada penguasaan nahwu dan sharaf. Nahwu digunakan untuk mempelajari struktur kalimat dan perubahan baris akhir. Sedangkan sharaf digunakan untuk mempelajari dasar kata beserta perubahannya. Selanjutnya untuk memperoleh kemahiran menyimak dan membaca perlu mempelajari ilmu muthala’ah. Untuk memperoleh kemahiran menulis atau mengarang perlu mempelajari ilmu insya’ dan untuk memperoleh kemahiran berbicara perlu mempelajari ilmu muhadatsah.
Sedangkan pentingnya pembelajaran bahasa Arab yaitu bahasa Arab merupakan salah satu bahasa besar yang banyak digunakan di berbagai pelosok dunia.[7] Sejak abad pertengahan bahasa arab menjadi bahasa universal yang akhirnya menjadikannya salah satu dari beberapa bahasa terbesar didunia seperti bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Spanyol, dan bahasa Rusia. Dan saat ini bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang dipergunakan untuk menulis dokumen-dokumen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Disisi lain, bahasa Arab adalah juga bahasa Al-Qur’an, hal inilah yang menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa yang sangat berkaitan dengan Islam, sebab ia adalah bahasa Agama untuk semua umat Islam didunia, baik bagi mereka yang mempergunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari mereka maupun tidak. Hal ini disebabkan karena orang-orang Islam membaca Al-Qur’an dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Tidak ada terjemahan Al-Qur’an yang dibuat dalam semua bahasa yang memungkinkan mereka untuk menggantikan bahasa aslinya. Begitu pula sholat lima waktu dan doa-doa, serta azan semuanya mempergunakan bahasa Arab fusha.
Dari fakta dan realita di atas, kita dapat mengetahui dan memahami akan pentingnya bahasa Arab, khususnya bagi umat Islam baik yang berdomisili di Arab maupun dinegara lainnya. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah dalam pembelajarannya bagi orang-orang asing (non-Arab), seperti halnya pembelajaran bahasa Arab di negara kita Indonesia yang mana mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Telah kita ketahui juga, bahwa bahasa Arab adalah salah satu bahasa Asing yang diajarkan di sebagian sekolah-sekolah di Indonesia, baik itu sekolahan dikota maupun di desa-desa. Dan kebanyakan, bahasa Arab diajarkan di madrasah-madrasah dan pondok-pondok pesantren yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Pada dasarnya, pembelajaran bahasa asing tidaklah mudah, akan tetapi seringkali terdapat kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dan murid. Sebagian dari kesulitan-kesulitan itu adalah seperti yang dikatakan oleh Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, bahwa dalam pembelajaran bahasa asing, sebagian besar murid masih menghafalkan kalimat-kalimat (vocabularies) akan tetapi tidak mampu memahami maknanya.[8] Seharusnya guru tidak boleh memaksa dan membebani murid dengan hafalan kalimat yang tidak diketahui maknanya, karena hal tersebut bukanlah cara yang baik untuk mempelajari bahasa asing. Berdasarkan hal tersebut, tentunya kita membutuhkan strategi yang jitu dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Arab. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran bisa mencapai target dan tujuan yang telah ditetapkan.
  1. Tingkatan-tingkatan dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Arab dengan tujuan untuk menhilangkan kesan bahwa bahasa arab itu sulit dan memusingkan maka guru harus mengerti tingkatan murid yang sedang diajar, agar bisa memberikan materi sesuai dengan tingkat  siswa pada saat itu.
Pemberian materi yang sesuai akan mempercepat pemahaman siswa, jangan sampai pada saat siswa masih pada tahap pemula (mubtadi’in) dalam mempelajari bahasa Arab, guru memberikan materi yang terlalu sulit seperti mengarang, bercerita dalam bahasa Arab tentu itu akan membuat siswa yang baru belajar bahasa Arab akan merasa sangat kesulitan, sehingga timbullah kefahaman pada diri siswa bahwa bahasa Arab itu sulit, begitu juga sebaliknya pemberian materi yang terlalu ringan kepada siswa yang sudah pada tingkat mahir (mutaqodimin) akan membuat siswa merasa cepat bosan karena meteri itu sudah dia kuasai, pengenalan awal terhadap  tingkatan siswa akan sangat membantu seorang guru dalam memberikan sebuah materi yang cocok, hal ini sesuai dengan yang dikatakan Yusuf bahwa pembelajaran bahasa Arab perlu dipersiapkan materi dengan baik yang disesuaikan dengan taraf perkembangan anak didik
Untuk menghindari kesan bahwa belajar bahasa Arab itu sulit maka yang harus kita laksanakan adalah:
1.      Mengajarkan bahasa Arab percakapan dengan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti oleh peserta didik
2.      Menggunakan alat peraga atau alat bantu, hal ini penting agar pembelajaran menarik, bergairah, dan mudah difahami
3.      Mengaktifkan seluruh panca indra anak didik, lidah dilatih dengan percakapan, mata dilatih dengan membaca, dan tangan dilatih dengan menulis dan mengarang
Dalam Pembelajaran bahasa Arab telah kita ketahui bahwa tingkatan pembelajaran bahasa Arab terdiri atas:
1.      Mubtadi’in (pemula) ini adalah tingkatan yang paling awal dalam pembelajaran bahasa arab, dan biasanya materi yang paling cocok untuk tingkatan ini adalah: menghafalkan mufrodat, percakapan yang sederhana, dan mengarang terarah (insya’ muwajahah) ini biasanya digunakan pada level bawah karena ia mencakup kegiatan mengarang yang dimulai dari merangkai huruf, kemudian kata dan kalimat
2.      Mutawasitin (menengah) ketika siswa pada tingkatan ini berarti dia sudah mendapatkan beberapa materi tentang bahasa Arab, dan tugas seorang guru pada saat itu adalah memberi penguatan terhadap materi-materi yang sudah didapatkan oleh siswa, sehingga bisa mahir dalam materi tersebut
3.      Mutaqodimin (mahir) pada tingkatan ini siswa sudah mulai mahir terhadap materi-materi berbahasa Arab dan materi yang sesuai bagi siswa yang sudah pada tingkatan ini adalah mengarang bebas (insya hur) ini biasanya digunakan  pada level tingkat tinggi karena disitu kentrampilan, kreatifitas dari seorang penulis sangat diandalkan.
Adapun terdapat pendapat lain dalam tingkatan-tingkatan dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu tingkat pemula diterjemahkan dengan al-Marhalat al-Ûla, dalam bahasa Inggris disebut dengan Elementary Level. Sementara tingkat menengah dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan al-Marhalat al-Mutawassithah, dalam bahasa Inggris disebut dengan Intermediate Level.
Menurut Dr. Ali Al-Hadîdi, istilah tingkat pemula atau menengah dalam dunia pembelajaran bahasa, termasuk bahasa Arab, dapat diukur dari dua aspek: pertama, aspek jumlah penguasaan mufradât siswa.[9] Untuk tingkat pemula, mufradât yang harus dikuasainya adalah 0 s/d. 1.000 kata, demikian juga untuk tingkat menengah, (1.000 s/d. 2.000 kata). Kedua, dari segi jumlah jam pelajaran. Untuk tingkat pemula, jumlah jam pelajaran yang harus dilalui mencapai 0 s/d. 250 jam; 200 jam dihabiskan secara formal di sekolah dan 50 jam untuk tugas dll. Jumlah dan alokasi jam di atas, juga berlaku untuk “tingkat menengah” yaitu 250 jam pelajaran: yang terdiri dari: 200 jam di kelas (dalam bimbingan guru), dan selebihnya di luar kelas, seperti tugas harian (minimal dua jam dalam sehari) baik secara mandiri maupun berkelompok.
Memperhatikan batasan di atas, dapat diketahui bahwa dikatakan tingkat pemula jika telah menguasai mufradat sejumlah 1.000 kata. Sementara untuk beranjak pada tingkat menengah harus menguasai 2.000 mufaradat. Di sisi lain, jumlah jam pelajaran yang harus dilewati mencapai 250 jam.
Berdasarkan batasan di atas, istilah pemula atau menengah tidak harus dipahami secara formal, seperti menyamakan pemula dengan SD atau MI, serta SLTP atau MTs dan SLTA atau Madrasah Aliyah dengan menengah, karena masing-masing level tersebut diukur dengan penguasaan sejumlah kosa kata dan sejumlah jam pelajaran yang telah dilalui. Maka boleh saja seseorang yang telah berumur 30 tahun namun baru mulai belajar bahasa disebut sebagai pemula, atau sebaliknya siswa yang baru berumur 10 tahun, tapi telah menguasai kosa kata dan jam pelajaran setingkat menengah disebut sebagai level menengah.


BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
1.      Pembelajaran bahasa Arab dapat didefinisikan suatu upaya membelajarkan siswa untuk belajar bahasa Arab dengan guru sebagai fasilitator dengan mengorganisasikan berbagai unsur untuk memperoleh tujuan yang ingin dicapai.
2.      Tujuan pembelajaran bahasa adalah untuk menguasasi ilmu bahasa dan kemahiran berbahasa Arab, seperti muthala’ah, muhadatsah, insya’, nahwu dan sharaf, sehingga memperoleh kemahiran berbahasa yang meliputi empat aspek kemahiran. Sedangkan pentingnya pembelajaran bahasa Arab adalah bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an, hal inilah yang menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa yang sangat berkaitan dengan Islam, sebab ia adalah bahasa Agama untuk semua umat Islam didunia, baik bagi mereka yang mempergunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari mereka maupun tidak.
3.      Beberapa tingkatan dalam pembelajaran bahasa Arab adalah pertama, Mubtadi’ (pemula), kedua, Mutawassith (Menengah), Ketiga, Mutaqaddim (mahir).


















Daftar Pustaka

Buku:
Hermawan, Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Abd Wahab Rosyidi & Mamlu’atul Ni’mah. 2011. Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UIN-Maliki Press.

Arsyad, Azhar. 2003. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. Surabaya: Pustaka Pelajar.
A Gani, Bustami. 1987. Al Arabiyah Bin-Namadzij. Jakarta: PT Bulan Bintang.

Zainudin, Radliah. 2005. Pembelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Pustaka Rihlah Group.

Internet:
Shvoong. 2012. Pengertian Pembelajaran Bahasa Arab, (online), http ://id. Shvoong.com, diakses pada tanggal 10 Maret 2013.

Najieb Taufiq. 2013. Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab, (online), file:///G:/Referensi/tujuan-pembelajaran-bahasa-arab.html, diakses pada tanggal 10 Maret 2013.


[1] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 32.
[2] Abd Wahab Rosyidi & Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), h. 33-34.
[3] Shvoong, “Pengertian Pembelajaran Bahasa Arab,” Artikel diakses pada tanggal 10 Maret 2013 dari http ://id. Shvoong.com.
[4] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Surabaya: Pustaka Pelajar, 2003), h. 25.
[5] Bustami A Gani, Al Arabiyah Bin-Namadzij, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1987), h. 16-17.
[6] Najieb Taufiq, “Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab,” Artikel diakses pada tanggal 10 Maret 2013 dari file:///G:/Referensi/tujuan-pembelajaran-bahasa-arab.html.
[7] Radliah Zainudin , Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005), h. 22.
[8] Ibid., h. 54.
[9] Bustami A Gani, Al Arabiyah Bin-Namadzij, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1987), h. 12.
 

Blogger news

Blogroll

About